KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.3

 


Tujuan Pembelajaran Khusus: CGP dapat melakukan koneksi antarmateri yang telah dipelajari dari modul-modul sebelumnya untuk membuat sintesa pemahaman tentang program sekolah yang berdampak pada murid.

Pertanyaan Pemantik: Bagaimana saya dapat mengaitkan intisari dari materi modul-modul guru penggerak yang telah saya pelajari untuk menjadi landasan teori bagi rencana program/kegiatan yang berdampak pada murid yang saya buat.

Pertanyaan pemandu dalam koneksi anter materi di modul ini sebagai refleksi program yang berdampak pada murid adalah:

1. Bagaimana perasaan Anda setelah mempelajari modul ini?

Yang saya rasakan dalam mempelajari Modul 3.3 dengan materi Pengelolaan Program yang Berdampak Positip pada Murid, sangat Bahagia, penuh suka cita karena saya bisa  mendapatkan banyak  ilmu yang sangat bermanfaat. Program yang berdampak positip pada murid sangat diperlukan oleh guru-guru dan oleh sekolah, karena pada dasarnya hampir seluruh sekolah bertujuan  untuk mendidik murid menjadi lebih baik bukan hanya di waktu sekarang tetapi di waktu yang akan datang sebagai bekal dalam kehidupannya,  dan  program sekolah sudah selayaknya berdampak positip bagi murid. 

Sebelum saya mempelajari modul ini, di sekolah kami dalam membuat dan  melaksanakan program  selalu menyesuaikan  dengan kondisi keuangan yang ada  atau selalu lebih fokus pada modal finansial saja dan disesuaikan dengan rancangan yang telah  disetujui, bukan pada kebutuhan yang harus didapatkan oleh murid. Setelah mempelajari modul ini saya menjadi tergerak bahwa program sekolah tidak seluruhnya fokus  menggunakan aset finansial saja akan teta[i dapat menggunakan aset atau modal-modal yang lainnya. Program sekolah bisa dibuat atau disusun berdasarkan kebutuhan murid yang berdampak positif. Program sekolah dibuat harus  menggerakkan atau mengembangkan aset yang ada sebagai modal, dan dapat dikembangkan dengan semaksimal mungkin denghan tidak memaksakan diri untuk penggunaan finansial sekolah yang terbatas.

2. Apa initisari yang Anda dapatkan dari modul ini?

Inti sari modul 3.3 ini adalah 

A. Student Agency (Kepemimpinan Murid)

Peran guru adalah mendampingi murid dalam mengembangakan potensi .  Empat sifat inti dari human agency adalah “IVAR”. IVAR yaitu  I – Intensi = Kesengajaan (intentionality), V – Visi = Pemikiran ke depan (forethought), A – Aksi = Kereaktifan-diri (self-reactiveness), R – Refleksi = Kereflektifan-diri (self-reflectiveness).

Kepemimpinan murid adalah tentang murid yang bertindak secara aktif, dan membuat keputusan serta pilihan yang bertanggung jawab, daripada hanya sekedar menerima apa yang ditentukan oleh orang lain. Ketika murid menunjukkan agency dalam pembelajaran mereka sendiri, yaitu ketika mereka berperan aktif dalam memutuskan apa dan bagaimana mereka akan belajar, maka mereka cenderung menunjukkan motivasi yang lebih besar untuk belajar dan lebih mampu menentukan tujuan belajar mereka sendiri.

Saat murid menjadi pemimpin dan mengambil peran aktif dalam proses pembelajaran mereka sendiri, maka hubungan yang tercipta antara guru dengan murid akan mengalami perubahan, karena hubungannya akan menjadi bersifat kemitraan, dengan bantuan peran dari seluruh guru.

B. Menumbuhkembangkan Kepemimpinan Murid

Saat murid menjadi pemimpin dalam proses pembelajaran mereka sendiri, maka mereka sebenarnya memiliki suara (voice), pilihan (choice), dan kepemilikan (ownership) dalam proses pembelajaran mereka.

Implementasi Student Agency terlihat saat  murid mendemonstrasikan “student agency”  ketika mereka mampu mengarahkan pembelajaran mereka sendiri, membuat pilihan-pilihan, menyuarakan opini, mengajukan pertanyaan dan mengungkapkan rasa ingin tahu, berpartisipasi dan berkontribusi pada komunitas belajar, mengkomunikasikan pemahaman mereka kepada orang lain, dan melakukan tindakan nyata sebagai hasil proses belajarnya.

C. Kepemimpinan Murid dan Profil Pelajar Pancasila

Dalam student agency disebut juga sebagai “kepemimpinan murid” meliputi Voice(suara), Choice (Pilihan), dan Ownership (Kepemilikan). Student Agency ini dilaksanakan maka  dapat menciptakan profil pelajar Pancasila.

Dalam profil pelajar Pancasila meliputi 6 dimensi yaitu

Beriman dan bertaqwa pada Tuhan YME dan berakhlak Mulia, Berkebinekaan global, gotong royong, mandiri, bernalar kritis dan kreatif. Keenam dimensi ini sebenarnya sudah sering diimplementasikan dalam lingkungan Pendidikan. Perlu pengembangan Kembali pada murid akan implementasi dalam kehidupan sehari-hari. Pembentukan profil pelajar Pancasila inilah perlu adanya kolaborasi dari seluruh warga dan lingkungan untuk menciptakannya. Diharapkan Program sekolah semuanya mencerminkan dimensi dalam profil pelajar Pancasila.

3. Apa  keterkaitan yang dapat Anda lihat antara Modul ini dengan modul-modul sebelumnya?

Keterkaitan modul 3.3 dengan modul sebelumnya

  Keterkaitan Modul 3.3 dengan Modul 1.1

Program yang berdampak Positip pada murid haruslah dilaksanakan atas dasar filosofi KHD, yaitu melalui filosofi Ki Hajar Dewantara tentang “menanam  padi”  bahwa dalam mewujudkan pembelajaran yang berpusat pada murid, saya sebagai guru sudah memulai mencoba merencanakan program yang mampu membangun ekosistem yang mendukung pembelajaran murid sehingga mampu mengembangkan segala potensi murid sesuai dengan kodratnya. Guru berperan sebagai among yang menjadi  fasilitator dalam menuntun murid untuk dapat memberikan pembelajaran pada murid sehingga mempunyai dampak positip pada murid.

Keterkaitan Modul 3.3 dengan Modul 1.2

Sebagai seorang guru, saya mencoba memahami nilai dan peran guru penggerak, sehingga berharap nantinya mampu memainkan peran saya sebagai agen perubahan, dengan senantiasa berperan aktif serta berupaya menggerakkan ekosistem sekolah guna tercapainya pengelolaan program sekolah yang berdampak pada murid untuk menumbuhkembangkan student agency, dan menciptakan profil palajar Pancasila.

Keterkaitan Modul 3.3 dengan Modul 1.3

Dalam pembuatan program yang berdampak pada murid tidak terlepas dari VISI sekolah.  Dalam menerapkan visi guru penggerak, saya berupaya merancang sebuah program atau kegiatan pembelajaran disekolah yang tentunya murid menjadi pertimbangan utama saya, dengan harapan program yang saya rancang dapat mendorong bertumbuhkembangnya kepemimpinan murid (student agency), dimana salah satu perancangan program yang saya buat menggunakan model inkuiri apresiatif dengan tahapan BAGJA.  Program yang berdampak pada murid inilah untuk mewujudkan VISI sekolah dengan prakarsa perubahan yang sesuai dengan aset sekolah yang ada untuk menciptakan profil pelajar Pancasila.

Keterkaitan Modul 3.3 dengan Modul 1.4

Dalam mengelola program yang berdampak positif bagi murid hal yang penting dan diperlukan adalah dengan adanya budaya positif di sekolah sehingga program-program yang dijalankan dapat berjalan dengan baik  sejalan dan berkesinambungan sehingga mampu menciptakan kepemimpinan murid (student agency), dan profil pelajar Pancasila.

Keterkaitan Modul 3.3 dengan Modul 2.1

Dalam mewujudkan student agency maka pengelolaan program yang berdampak pada murid harus mampu mengakomodir segala perbedaan kebutuhan belajar murid mulai dari kesiapan, minat, dan profil belajar murid. Perbedaan karakter anak inilah yang menjadi dasar dalam pemberian layanan yang sesuai dengan kebutuhan anak. Dengan adanya perbedaan maka akan memunculkan rasa keingintahuan, dan mempunyai ide gagasan serta kepemilikan. Sehingga pembelajaran berdiferensiasi juga memunculkan peran aktif, mengungkapkan pendapat, merefleksikan dan menghasilkan produk dalam pembelajarannya. Hal ini juga sudah mencerminkan implementasi dalam Student Agency.

Keterkaitan  Modul 3.3 dengan Modul 2.2

Dalam merencanakan program yang berdampak pada murid, perlu mengintegrasikan pembelajaran sosial dan emosional di dalamnya. Hal ini dimaksudkan untuk menempatkan murid pada kesadaran penuh (minfulness). Ketika murid sudah fokus, maka ia akan tenang, berempati, termotivasi dan memiliki sikap tanggung jawab dalam menjalankan program sehingga dengan sendirinya student agency akan tercipta.

Keterkaitan Modul 3.3 dengan Modul 2.3

Coaching sangat penting dilakukan sebagai cara dan langkah untuk menggali segala potensi dan mengembangkan keaktifan murid sehingga ia akan mampu untuk menemukan sendiri solusi atas permasalahan yang ia hadapi ketika melaksanakan program sekolah yang berdampak pada murid untuk itu sikap kreatif, inovatif dan kritis dari murid sangat diharapkan agar tercipta kepemimpinan murid (student agency). Begitu juga dengan impian dan harapan anak yang di dapat melalui coaching dengan anak semuanya akan tersalurkan melalui program yang berdampak positip pada murid.

Keterkaitan Modul 3.3 dengan Modul 3.1

Dalam perancangan dan pembuatan program sekolah haruslah yang berpihak pada murid, dan dapat dipertanggungjawabkan. Agar keputusan yang kita ambil bersifat efektif dan efisien terkait rancangan program yang ingin dilaksanakan tentunya keputusan tersebut harus memperhatikan 3 prinsip berpikir, 4 paradigma pengambilan keputusan dan melakukan 9 langkah pengajuan dan pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Hal itu tentu saja untuk mengantisipasi ketika ada dilema etika ataupun bujukan moral dalam penyelenggaraan kegiatan yang berdampak positif pada murid.

Keterkaitan Modul 3.3 dengan Modul 3.2

Dalam perencanaan dan pelaksanaan program yang berdampak pada murid hendaknya menggunakan pendekatan berbasis aset sehingga dalam melaksanakan program tersebut kita dapat memaksimalkan segala potensi yang ada di sekolah. Dengan memaksimalkan segala potensi maka dapat dipastikan program yang direncanakan akan berjalan dengan baik dan berkesinambungan untuk menumbuhkan kepemimpinan murid (student agency).

  1. Setelah melihat keterkaitan antara modul ini dengan modul-modul lainnya jelaskanlah perspektif Anda tentang program yang berdampak positif pada murid. Bagaimana seharusnya program-program  atau kegiatan sekolah harus direncanakan, dilaksanakan, dan dievaluasi agar program-program tersebut dapat berdampak positif pada murid?

Setelah mempelajari modul ini prespektif kedepan akan program adalah program yang berdampak positip pada murid, yaitu program yang mengedepankan kepemimpinan murid, dengan menggunakan aset yang ada disekolah sesuai dengan keputusan bersama yang dapat  mewujudkan visi sekolah.

Program seharusnya dibuat atas dasar impian dan harapan murid, menggunakan aset yang ada disekolah untuk dioptimalkan. Program ini melibatkan anak dan anak aktif langsung dalam merencanakan melaksanakan dan mengevaluasi program. Semua bentuk program akan menciptakan student agency dan menciptakan profil pelajar Pancasila.

Contoh program saya tentang program yang berdampak pada murid adalah pengembangan literasi sekolah. Literasi yang selama ini dikembangkan belum menarik dan belum mendapatkan  respon yang baik dari peserta didik sehingga tingkat literasi dalam raport pendidikan masih rendah atau belum mengalami peningkatan yang signifikan, sehingga kami perlu mengevaluasi dan merubah strategi. Rendahnya minat peserta didik itu karena mereka merasa membaca membosankan apalagi dengan bacaan-bacaan yang kuarng menarik, mereka ingin bacaan bacaan yang menarik dan berbeda,sehingga timbul gagasan agar tidak membosankan harus bisa menambah buku-buku yang bergambar atau cerita non fiksi ,   berdasarkan kebutuhan tersebut maka  munculah ideu program LICEGAM  ( Literasi cerita Bergambar) program yang bersifat ko-kulilkuler yang dilaksankan  sebelum KBM satu minggu dau kali setiap Selasa dan Rabu dan saat istirahat dengan tidak mengganggu aktifitas mereka dalam beristirahat. Dengan bekerjasama seluruh warga sekolah. Adapun evaluasinya dilakukan setiap minggu dan setiap satu bulan sekali mereka presentasi hasil bacaan serta mereka atau para murid diberikan karti bacaan sebagai jurnal laporan kepada wali kelas. 

Kegiatan ini melibatkan murid berperan aktif dalam merencanakan dan melaksanakan program. Saat proses pembuatan program juga murid  dilibatkan, dalam pelaksanaan program murid berperan aktif, dan saat evaluasi murid diikut sertakan.

Rangkuman dari Materi modul 3.3 sesuai rubrik penilaian

A. Pemikiran reflektif terkait pengalaman belajar

  1.  Pengalaman/materi pembelajaran yang baru saja diperoleh

Pengalaman yang saya peroleh

Murid adalah aset  manusia yang sangat berharga dalam proses pembelajaran. Harapan dan keinginan guru sebagai fasilitator adalah memunculkan potensi murid sesuai dengan minat dan bakatnya supaya  merangsang mereka untuk bersemangat dalam proses belajarnya sehingga tumbuh tanggung jawab dengan apa yang mereka yakini. Selama ini saya masih berfikir bahwa guru yang memegang kendali terhadap proses pembelajaran murid, persepsi itulah yang menjadikan proses pembelajaran seolah-olah dipaksakan anak harus mengikuti perintah guru, apa program sekolah, sehingga muncul semacam keterpaksaan pada diri murid mengerjakan penugasan yang diberian oleh guru.

Dalam modul 3.3 ini saya semakin memahami bahwa murid kita dapat melakukan aktivitas pembelajaran  lebih dari sekedar menerima perintah  dari guru. Murid secara alami adalah seorang pengamat, penjelajah, penanya, yang memiliki rasa ingin tahu atau minat terhadap berbagai hal. Lewat rasa ingin tahu serta interaksi dan pengalaman mereka dengan orang lain dan lingkungan sekitarnya, mereka kemudian membangun sendiri pemahaman tentang diri mereka, orang lain, lingkungan sekitar, maupun dunia yang lebih luas. Sebenarnya murid juga memiliki kemampuan untuk mengambil bagian atau peranan dalam proses belajar mereka sendiri. Setelah mempelajari modul ini saya bertekad dengan merancang pembelajaran yang mampu memberikan kesempatan kepada murid untuk mengembangkan potensinya dalam mengelola pembelajaran mereka sendiri, sehingga potensi kepemimpinannya dapat berkembang dengan baik. Saya juga akan membuat Program yang berdampak pada murid sesuai impian murid.

  1. Emosi-emosi yang dirasakan terkait pengalaman belajar

Pengalaman dalam proses pembelajaran setelah membaca dan memahami berbagai modul dari pelatihan guru penggerak ini terutama pada modul 3.3 saya merasakan banyak sekali perubahan, terutama paradigma berfikir saya sebagai seorang guru, ada rasa yang berbeda pada diri saya, muncul keyakinan dan percaya diri saya tentang peran dan fungsi saya sebagai seorang guru, guru adalah seorang seorang fasilitator sekaligus mitra belajar bagi murid. Melalui modul ini pula saya semakin memahami bahwa tugas guru bukan hanya sekedar memberikan materi kepada murid, tapi bagaimana seorang guru mampu menggali, merancang, menemukan setiap potensi dari setiap murid dikelasnya, kelas yang tercipta harus menyenangkan.

Melalui “student agency” murid menjadi mampu mengarahkan pembelajaran mereka sendiri, membuat pilihan-pilihan, menyuarakan opini, mengajukan pertanyaan dan mengungkapkan rasa ingin tahu, berpartisipasi dan berkontribusi pada komunitas belajar, mengkomunikasikan pemahaman mereka kepada orang lain, dan melakukan tindakan nyata sebagai hasil proses belajarnya. Sehingga keinginan belajar berdasarkan kesadaran bukan paksaan. Program yang selama ini terlaksana juga belum memenuhi impian murid, namun dengan mengikuti PGP dalam modul ini saya ingin membuat program yang berdampak pada murid, dengan berkolaborasi dengan seluruh warga sekolah.

3. Apa yang sudah baik berkaitan dengan keterlibatan murid dalam proses belajar 

Selama mempelajari modul-modul dari guru penggerak ini banyak hal baru yang sudah  saya dapatkan dan saya berusaha  untuk menerapkan dalam proses pembelajaran di kelas, saya harus berusaha  mengurangi peran saya sebagai pengendali utama dikelas terutama memaksakan kehendak saya dikelas, dulu saya sering beranggapan bahwa anak harus memahami apa mau saya, sekarang dengan pemahaman baru setelah menyelesaikan materi pada modul 3.3 ini saya sudah mulai berkolaborasi dengan murid dan selalu berusaha melakukan  pembelajaran lebih berpihak pada murid misalnya dalam menciptakan kelas yang membahagiakan mereka, Bagaimana menciptakan kelas-kelas yang dicintai murid, bagaimana murid mulai membuat proyek-proyek yang mereka mereka mau sesuai dengan bakat dan potensi  mereka, sementara peran saya adalah sebagai fasilitator dan  mitra belajar  bagi mereka dengan memberikan mereka tantangan, menjadi motivator dan juga kontroling pada proses pembelajaran yang diselenggarakan, diantara berbagai program yang saya buat bersama mereka adalah proyek bisa berbentuk poster, cerita bergambar,  pembuatan , berbagi cerita inspiratif pembelajaran, dan lain sebagainya.

  1.  Apa yang perlu diperbaiki terkait dengan keterlibatan murid dalam proses belajar

Beberapa hal yang masih perlu diperbaiki terkait dengan keterlibatan murid dalam proses belajar adalah saya harus merancang dan menemukan ide-ide baru yang disukai murid sehingga murid dapat lebih kreatif, inovatif, dan tidak bosan dengan berbagai program yang selama ini sudah berjalan, saya juga harus terus konsisten dalam menumbuhkan voice, choice dan ownership (Student Agency) murid dengan melibatkan mereka dalam pengelolaan program yang berdampak pada murid. Program yang dibuat harus sesuai impian murid, sehingga tercipta kepemimpinan murid dan profil pelajar Pancasila.

  1.  Implikasi terhadap kompetensi dan kematangan diri pribadi

Implikasi terhadap kompetensi dan kematangan diri pribadi saya adalah saya semakin terlatih dan bertambah keyakinan untuk mampu merancang berbagai program yang berdampak positip pada murid dan  berpihak pada kepemimpinan murid melalui berbagai penguatan materi yang telah saya dapatkan dan pelajari baik dari modul di LMS, pemahaman oleh fasilitator, pengajar praktik,  dan instruktur serta informasi pada  ruang kolaborasi dengan rekan sejawat. Implementasi materi dalam PGP akan sangat berguna badi diri sendiri dan sekolah untuk mengembangkan potensi yang ada. Dari kegiatan PGP selalu ada aksinyata, maka kegiatan inilah bukti dalam implementasi kegiatan PGP di lingkungan  saya bekerja.

B. Analisis untuk implementasi dalam konteks CGP

  1. Pertanyaan kritis yang muncul setelah mempelajari modul 3.3

Bagaimana merancang sebuah program yang dapat mendorong murid untuk menumbuhkembangkan Kepemimpinan murid ( Student Agency)  dalam proses pembelajaran di kelas ?

Bagaimana merancang program sekolah yang dapat menumbuhkembangkan kepemimpinan murid (Student Agency) yang berdapak positip pada murid, dengan menggunakan aset yang ada dan mampu menciptakan profil pelajar Pancasila?

Bagaimana cara pelaksanaan program agar seluruh ekosistem sekolah dapat terlibat dalam pengelolaan program yang berdampak positip pada murid untuk menciptakan kepemimpinan murid dan profil pelajar Pancasila ?

  1. Wawasan (insight) baru

Pengalaman belajar yang dialami oleh murid di dalam kelas akan membentuk serta mempengaruhi karakter serta kepribadiannya, jadi sudah selayaknya guru harus  mampu merancang pembelajaran yang memberikan ruang lingkungan belajar murid sehingga tujuan pendidikan sesuai filosofi Ki Hajar Dewantara dapat terwujud. Lingkungan belajar sangat berperan dalam menumbuhkembangkan kepemimpinan murid. Komunitas yang mendukung kepemimpinan murid akan memahami bahwa sesungguhnya setiap murid memiliki voice, choice dan ownership dalam proses pembelajarannya, sehingga untuk menumbuhkembngkan student agency maka murid perlu dilibatkan dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi berbagai program sekolah. Seluruh guru dapat memanfaatkan setiap asset atau kekuatan yang ada disekolah untuk merancang program yang mendorong tumbuhnya kepemiminan murid dengan menetapkan pendekatan inquiri apresiatif menggunakan tahapan BAGJA, baik untuk program pembelajaran di kelas maupun program sekolah.

  1. Analisis tantangan

Tantangan dalam kelas

Tantangan yang mungkin saya alami ketika merancang suatu program yang berdampak pada kepemimpinan murid adalah mendapati kelas yang cenderung pasif saat kegiatan pembelajaran murid jarang berani berpendapat maupun menyampaikan ide atau gagasannya. Sering yang terjasi mendapati kelas yang anak-anaknya cenderung pasif dalam kegiatan pembelajaran. Kurang kurang percaya diri ketika mengungkapkan pendapat, kurang berani ketika tampil di depan teman temannya.

 Tantangan di sekolah

Ketiga program yang berdampak pada murid perlu membutuhkan kolaborasi dengan banyak rekan sejawat, belum tentu mendapatkan respon positip, karena kesibukan dari masing masing guru. Keterbatasan akan sarana pendukung karena buku  yang terbatas perpustakaan yang belum cukup memadai sebagai  syarat akan terselenggaranya program sekolah. Pendukung secara finansial saat pelaksanaan program, yang berbasis proyek, sangat berpengaruh.

  1. Alternatif solusi terhadap tantangan

Dalam Kelas

Adapun langkah yang akan saya ambil sebagai alternatif solusi adalah menggunakan cara pendekatan yang berbeda kepada kelas yang cenderung pasif saat pembelajaran, misalnya dengan memberikan   pertanyaan yang memantik untuk murid supaya muncul rasa ingin tau dan juga memberikan tantangan proyek kepada murid sehingga terpacu motivasinya. Memberikan kesepakatan di awal saat akan melaksanakan pembelajaran, dan memberikan kesiapan belajar sebelumnya agar murid paham apa yang akan dipelajari nanti dan di praktekkan.  Hal lain yang akan saya lakukan misalnya dengan memberikan kesempatan kepada siswa menuliskan ide/gagasannya lewat tulisan bagi beberapa murid yang memang memiliki masalah dengan kepercayaan dirinya ketika harus berbicara didepan umum secara langsung  atau berpendapat. Dan menanyakan perasaan ketika akan melaksanakan pembelajaran.

Selain itu juga dapat dilakukan dengan membuat keyakinan kelas sehingga budaya positif disekolah tumbuh dengan baik guna mendukung keberlangsungan program kelas yang telah direncanakan.

Tantangan Sekolah

Menanamkan budaya positip di sekolah dan memberikan sosialisasi program pada seluruh warga sekolah dengan memberikan kesempatan rekan untuk berperan sesuai potensi masing masing. Menggunakan aset yang ada untuk dapat mengembangkan program sekolah dengan rasa gotong royong demi keberpihakan pada murid dan menciptakan kepemimpinan murid dan profil pelajar Pancasila. Bekerjasama dengan orang tua murid dan Lembaga lain  untuk dapat memberikan bantuan atau donator pada sekolah akan peduli Pendidikan untuk dapat mendukung program sekolah yang berdampak positip pada murid.

  1. Gambaran rencana implementasi (praktik)

Sebagai gambaran rencana implementasi (praktik) dari penerapan modul 3.3 ini adalah saya akan merancang pembelajaran yang yang dapat mendorong murid untuk menumbuhkembangkan voice, choice dan ownership dalam proses pembelajarannya. Diantara beberapa program yang saya rencanakan adalah program LICEGAM.  Program ini adalah sebuah program kokurikuler yang memiliki tujuan untuk mengembangkan literasi sekolah dalam kemampuan siswa membaca dan menulisa tanpa keterpaksaan namun literasi yang menyenangkan.  Dalam prosesnya murid dapat memilih buka bacaan sesuai dengan yang mereka minati. Hasil bacaan berupa judul bacaan dan rangkuman hasil bacaan dapat mereka masukan ke Jurnal dalam bentuk kartu laporan setiap minggu daqn setiap bulan. sxtiap tiga bulan sekali mereka melaporkan rekapan dan membacakan hasil bacaanya di depan kelas dengan dibimbing oleh wali kelas.ekolah. Aset yang diambil adalah aset manusia . Kegiatan LICEGAM ini satu upaya  untuk menciptakan kepemimpinan siswa melalui Voice, Choise, dan Ownership, program wali kelas dan dibantu guru Bahasa indonesia. Hal ini dapat menumbuhkan rasa kepemimpinan murid dan menciptakan profil pelajar Pancasila yang kreatif, mandiri, bernalar kritis, dan berakhlak mulia,. LICEGAM adalah implementasi literasi yang menyenangkan.

Membuat keterhubungan

  1. Pengalaman masa lalu

Pada saat saya masih SMA tahun 1991 pelajaran Bahasa Indonesia saat ada tugas atau materi terkait wawancara serta pembuatan laporan dalam bentuk makalah kami kelompok selalu mendapatka tugas untuk mewawancarai gur maupun TU serta kakak kelas sehingga hasil laporan bisa dipertanggungjawabkan dan kami  diberi kebebasan untuk menentukan topik atau tema wawancara terkait dengan kehidupan di sekolah . awalnya hal ini sangat berat bagi saya karena kadang ada saja pihak yang di wawancara kurang respon dan juga bisa mnegeluarkan uang banyak saat harus  membuat laporan dalam bentuk makalah. Alhamdulillah  karena dukungan orang tua dan teman sekelompok   saya mampu melewatinya, saya senang jadi memiliki kemampuan untuk melakukan wawancara dengan mandiri, membuat laporan hasi wawancara berupa makalah serta jadi memiliki kepercayaan diri.

Ternyata guru jaman dulu sudah menggunakan metode yang luar biasa, memanfaatkan aset lingkungan yang ada, berupa modal manusia dan modal lingkungan. Namun demikian masih berupa perintah dari guru untuk menyelesaikan tugas tepat waktu. Dan juga saat kegiatan mata pelajaran lainnya guru sering mengajak keluar didaerah sekitar yang ada, sehingga sering belajar di luar ruangan supaya tidak bosan didalam kelas. .

  1. Penerapan di masa mendatang

Saya akan berusaha menciptakan dan merancang pembelajaran yang berdampak bagi murid-murid dikelas. Saya akan selalu mencoba melibatkan murid dalam setiap pengambilan keputusan belajarnya. Mendengarkan suara, memberikan pilihan-pilihan dan menumbuhkan kepemilikan pada diri murid sehingga pengalaman-pengalaman belajar yang mereka alami sesuai dengan kemampuannya, terutama secara finansial, dan memberikan alternatif untuk mereka pilih sesuai potensi dan kemampuannya.

Program sekolah juga demikian, seriap merancang, melaksanakan dan mengevaluasi murid terlibat. Sehingga program sekolah untuk mewujudkan  visi sekolah yang  berdampak positip bagi murid dengan mewujudkan kepemimpinan murid, dan mampu menciptakan profil pelajar Pancasila, sesuai mimpi dan harapan murid.

Melaksanakan Pembelajaran yang menyenangkan dengan Menuntun murid dengan mengikuti sesuai kodrat alam dan kodrat zamannya . Pendidikan untuk menuntun Murid agar terselamatkan guna meraih kebahagiaan yang setingg-tingginya serta bisa diterima dalam kehidupan di masyarakat. 

Terimakasih


Komentar

Postingan Populer